Seven Areas of Court Excellence

Saya pernah ditanya oleh rekan pengacara dari Australia dan Singapura mengenai pengadilan di Indonesia dikaitkan dengan konsorsium International Framework of Court Excellence. Bagi saya tidak aneh apabila para pengacara di Negara Kangguru dan Negara Kota Singa menanyakan hal ini, karena mereka ditanyakan oleh klien-klien mereka yang berniat untuk investasi di Indonesia. Bagi para investor asing, salah satu faktor yang patut dipertimbangkan sebelum mereka melakukan investasi di Indonesia adalah sistem pengadilan yang telah berjalan.

 International Framework of Court Excellence (IFCE)

 IFCE dibentuk dengan latar belakang para ahli dari Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Singapura, yang terinspirasi oleh model kualitas pengadilan digunakan dalam sejumlah komunitas internasional. Tujuan konsorsium dibentuk adalah untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapai keunggulan pengadilan. Konsorsium menyimpulkan bahwa cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan ini adalah untuk mengembangkan Kerangka Pengadilan Internasional untuk Keunggulan.

IFCE menilai kinerja pengadilan terhadap tujuh bidang keunggulan dan memberikan pedoman bagi pengadilan untuk meningkatkan kinerja mereka. IFCE menggunakan metodologi perbaikan organisasi yang mencakup studi kasus, proses perbaikan kinerja pengadilan dan berbagai alat yang tersedia untuk mengukur kinerja pengadilan dan pembangunan. IFCE juga secara teratur melakukan revisi sistem guna meningkatkan pemberian layanan oleh pengadilan. Ini merupakan proses pendekatan yang mencakup segala untuk mencapai keunggulan pengadilan bukan hanya menangani aspek-aspek yang terbatas dari aktivitas pengadilan (http://www.courtexcellence.com).

 Tujuh bidang keunggulan yang dinilai berdasarkan self assessment checklist IFCE adalah:

  1. court management and leadership
  2. court planning & policies;
  3. court resources (human material and financial);
  4. court processes proceedings;
  5. client needs & satisfaction;
  6. affordable and accessible court services;
  7. public trust and confidence;

Sepanjang sepengetahuan saya dari hasil pemeriksaan atas beberapa literatur yang tersedia dan terbuka untuk diakses, pengadilan di Indonesia belum melakukan self assessment checklist IFCE sebagaimana tersebut di atas. Wajar bagi investor asing yang negaranya merupakan anggota dari IFCE menanyakan keterkaitan pengadilan di Indonesia dengan IFCE. Bagi mereka hasil self assessment checklist adalah sebuah parameter yang patut dijadikan pertimbangan dalam melakukan investasi. Memperhatikan hal tersebut, sudah sepatutnya bagi Mahkamah Agung RI untuk menggenjot lebih cepat lagi reformasi pengadilan di Indonesia, agar pengadilan di Indonesia menjadi pengadilan unggulan di mata dunia internasional.

Cicut Sutiarso, mantan Ketua Pengadilan Negeri/Niaga/HAM/TPKOR dan PHI Jakarta Pusat dalam bukunya yang berjudul Pelaksanaan Putusan Arbitrase Dalam Sengketa Bisnis, halaman 71, edisi Mei 2011, mengatakan “….Namun Penulis berpendapat bahwa jika menginginkan sebuah pengadilan disebut pengadilan unggulan, mau tidak mau, harus semua asas peradilan yang baik dapat berkorelasi dengan 7 (tujuh) bidang keunggulan peradilan yang sudah dikenal di dunia perdagangan.”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s