Alternative dispute resolution inside the court

Pada suatu ketika ada klien saya yang ber-warga negara asing bertanya kepada saya, “is there any alternative dispute resolution inside the court in Indonesia?”. Sesaat sebelum menjawab pertanyaan tersebut pikiran saya menerawang jauh kembali ke masa lebih dari 14 tahun yang lalu pada saat saya menulis skripsi, yang kebetulan judulnya adalah Alternatif Penyelesaian Sengketa Didalam Pengadilan.

Wajar apabila seorang WNA yang juga seorang investor asing menanyakan hal demikian, mengingat dalam melakukan investasi terdapat resiko-resiko, diantaranya adalah sengketa hukum di pengadilan. Adalah sangat wajar juga apabila investor asing tersebut membandingkan hukum di Indonesia dengan hukum di negara asalnya, yang kebetulan negara asalnya lebih maju dari Indonesia, terutama dalam aspek penegakan hukum. Paling menyedihkan adalah ketika terdapat investor asing yang menanyakan alternative dispute resolution dikarenakan mereka telah sering mendengar atau membaca mengenai potret buruknya pengadilan di Indonesia, saya hanya dapat membathin kecut mendengarnya.

Alternatif penyelesaian sengketa didalam pengadilan perdata adalah mediasi menuju perdamaian, yang dalam beberapa negara lain disebut juga “settlement hearing”. Pada prinsipnya, proses menuju perdamaian dapat dilakukan kapan saja selama proses pengadilan, baik diawal proses (pada saat mediasi) maupun di akhir proses sebelum dibacakannya putusan oleh majelis hakim.  Mediasi sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (2) Perma Nomor 01 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan adalah sebuah prosedur yang wajib diikuti atau dilalui oleh setiap hakim, mediator dan para pihak yang bersengketa. Pelanggaran terhadap hal ini merupakan pelanggaran atas Pasal 130 HIR dan atau Pasal 154 Rbg dan mengakibatkan putusan batal demi hukum.

Sayang dalam prakteknya, proses mediasi sesuai Perma Nomor 01 Tahun 2008 tersebut belum cukup efektif dalam mendamaikan para pihak. Menurut pengalaman saya, terdapat beberapa hal yang harus dikedepankan dalam mediasi, yaitu:

  1. Sebaiknya kuasa hukum tidak hanya berkewajiban mendorong principalnya untuk berperan langsung secara aktif sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (4) Perma 01 Tahun 2008, melainkan para pihak yang bersengketa wajib hadir serta berperan aktif dalam proses mediasi. Dengan demikian mediasi dihadiri tidak hanya oleh kuasa hukumnya, namun dihadiri juga secara aktif oleh principal atau pihak yang bersengketa.
  2. Dalam hal salah satu pihak (baik principal ataupun kuasa hukumnya) tidak hadir walaupun telah dipanggil secara patut atau principal tidak hadir tanpa alasan yang logis (walaupun kuasa hukumnya hadir), sebaiknya ada mekanisme bahwa mediator berhak memberikan rekomendasi kepada majelis hakim yang akan memeriksa pokok perkara bahwa pihak yang tidak hadir tersebut tidak beritikad baik dalam menyelesaikan sengketa. Dalam hal ini mediator tidak hanya menyatakan bahwa mediasi telah gagal.
  3. Sebaiknya dipungut biaya atas jasa mediator hakim. Pasal 10 Perma 01 Tahun 2008 telah membedakan antara jasa mediator hakim dan jasa mediator bukan hakim. Tentu saja dalam praktek, para pihak yang bersengketa akan memilih jasa mediator hakim yang tidak dipungut biaya, namun dalam kenyataannya mediator hakim belum dapat berperan penuh dalam mediasi. Sangat diharapkan apabila mediator hakim juga mendapat uang jasa, maka mediator hakim akan berperan lebih aktif dalam mendamaikan para pihak dengan demikian pelaksanaan mediasi tidak hanya untuk memenuhi aspek formalitas saja. Menurut saya dengan dipungutnya biaya untuk jasa mediator hakim tidak bertentangan dengan prinsip sederhana, cepat dan biaya ringan, hal mana titik berat dari proses mediasi adalah upaya perdamaian.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s