Pembagian dividen untuk pemegang saham, tantiem bagi direksi dan komisaris serta bonus untuk karyawan

Mulai bulan ke empat hingga bulan ke enam dari setiap tahunnya, banyak pengumuman di media mengenai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan suatu perseroan terbatas dengan salah satu agendanya adalah pembayaran dividen dan atau tantiem serta bonus.

Pembagian dividen, tantiem atau bonus merupakan hal biasa dalam korporasi, bahkan sering ditunggu oleh para investor saham, direksi, komisaris maupun para karyawan dari perseroan terbatas. Akan tetapi pembagian dividen, tantiem atau bonus dapat menuai masalah hukum apabila dilakukan secara tidak tepat. Telah tercatat dalam Dunia hukum Indonesia bahwa pembagian dividen, tantiem dan atau bonus dapat menunai masalah hukum. Dua diantaranya adalah kasus pembagian bonus kepada direksi PLN pada tahun 2003 yang berbuntut panjang hingga masalah kerugian negara dan kasus PT Humpus Transportasi Curah (“HTC”) yang menggugat direksi dan komisarisnya karena telah membagikan bonus yang tidak sesuai dengan kondisi perusahaan.

Berbeda dengan rezim Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995, rezim Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”) telah mengatur lebih tegas mengenai penggunaan laba perseroan. Pasal 71 ayat (3) UUPT mengatur bahwa dividen hanya bisa dibagikan apabila perseroan mempunyai saldo laba yang positif, yaitu diambil dari laba bersih perseroan setelah dikurangi dengan penyisihan cadangan. Penyisihan cadangan wajib dilakukan bagi perseroan yang memiliki saldo laba positif dan dilakukan sampai cadangan mencapai paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari modal yang ditempatkan dan disetor.

Saldo laba positif adalah laba bersih perseroan dalam tahun buku berjalan yang telah menutup akumulasi kerugian perseroan dari tahun buku berikutnya. Dalam hal laba bersih perseroan dalam tahun buku berjalan belum seluruhnya menutup akumulasi kerugian perseroan dari tahun buku sebelumnya, perseroan tidak dapat membagikan dividen karena perseroan masih mempunyai saldo laba bersih negatif. Penjelasan Pasal 71 ayat (1) UUPT menjelaskan lebih lanjut bahwa sebagian atau seluruh laba bersih dapat ditetapkan oleh RUPS untuk pembagian  dividen terhadap pemegang saham, cadangan, dan/atau pembagian lain seperti tantiem bagi direksi dan komisaris serta bonus bagi karyawan. Pemberian tantiem dan bonus yang dikaitkan dengan kinerja perseroan telah dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya.

Dari ketentuan Pasal 70 UUPT juncto Pasal 71 UUPT serta penjelasannya, dapat diterjemahkan sebagai berikut:

  1. suatu perseroan terbatas dengan saldo laba positif wajib memiliki cadangan yang didapat dari penyisihan laba bersih perseroan.
  2. laba bersih peseroan, setelah dikurangi penyisihan sebagai cadangan dapat ditetapkan oleh RUPS untuk pembagian dividen dan/atau tantiem bagi direksi dan komisaris serta bonus karyawan.
Paragraph terakhir penjelasan Pasal 71 ayat (1) UUPT mengatakan bahwa pembagian tantiem dan bonus dapat dilakukan oleh perseroan sepanjang tantiem dan bonus tersebut dikaitkan dengan kinerja, telah dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya. Dalam praktek, beberapa perseroan terbatas memberikan bonus kepada karyawannya selama bonus yang diberikan terkait dengan target dan kinerja yang dicapai. Artinya, dalam perseroan tersebut telah terdapat suatu sistem pemberian bonus terkait dengan target dan kinerja yang dicapai. Contoh: pemberian bonus bagi staf marketing perseroan apabila target tercapai dan bonus yang diberikan merupakan pos biaya bagi perseroan, bukan laba dari tahun berjalan. Sistem yang demikian akan memaksa perseroan untuk memberikan bonus walaupun perseroan dalam keadaan rugi, baik dalam tahun berjalan maupun rugi secara kumulatif dari tahun sebelumnya.
Apabila perseroan memiliki saldo laba negatif, direksi dan komisaris perseroan memiliki kewajiban melakukan segala upaya untuk menjaga perseroan agar tetap “going concern“, yaitu dengan mengurangi beban perseroan melalui upaya penghematan dari pos-pos biaya perseroan untuk memaksimalkan  laba tahun berjalan yang didapat  dan membuat cadangan menjadi maksimal. Pengecualian dari hal ini adalah apabila perseroan memiliki sistem pemberian insentif kepada karyawan terkait dengan target atau kinerja yang tercapai. Pemberian insentif dapat memberikan dampak positif dalam meraih pendapatan perseroan, walaupun pemberian insentif berarti menambah beban pembiayaan yang harus dianggarkan oleh perseroan.

One Comment on “Pembagian dividen untuk pemegang saham, tantiem bagi direksi dan komisaris serta bonus untuk karyawan”

  1. fitri says:

    Terimakasih, tulisannya sangat membantu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s