Perlindungan Hak Cipta Atas Fine Art Photography Aliran Nudisme

Hak Cipta

Hak Cipta merupakan hak ekskusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Vide Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta).

Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta sebagaimana tersebut di atas, fungsi Hak Cipta adalah hak untuk mengumumkan, memperbanyak, memberi izin untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak atas Ciptaan, dan memperjanjikan Hak Cipta dengan pihak lain.

Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak. Hal mana telah ditegaskan dalam Pasal 3 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Sebagai benda bergerak, Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan kepemilikannya, baik seluruhnya maupun sebagian karena:

  1. pewarisan;
  2. hibah;
  3. wasiat;
  4. perjanjian tertulis; atau
  5. sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.

Dengan demikian, Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak immateriil, pribadi yang integral dengan Penciptanya, hasil ciptaan itu bentuknya khas, yang bisa dibedakan dengan ciptaan orang lain walaupun objek yang diciptakan sama, dan tidak bisa disita oleh siapa pun (Rooseno Harjowidigdo, Mengenal Hak Cipta Indonesia, Cet. 3, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), op. cit., hal. 24.)

Hak Cipta Atas Foto atau Potret

Seorang fotografer yang atas inspirasinya menciptakan karya fotografi berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan dan keahliannya adalah pemilik hak cipta atas potet yang dibuatnya. Sebagai pencipta ia merangkap sebagai pemegang hak cipta dari karyanya tersebut, potret, negatif atau softcopy digitalnya adalah milik sang fotografer.

Seorang fotografer dapat mengalihkan hak ciptanya melalui perjanjian, baik secara tertulis maupun secara lisan kepada pihak lain, hal mana sering terjadi dalam fotografi komersial. Dalam fotografi komersial biasanya dibuat perjanjian-perjanjian yang dapat berupa:

  1. Perjanjian yang mengatur mengenai pembayaran untuk setiap pemotretan.
  2. Perjanjian eksklusif bagi fotografer dalam jangka waktu tertentu tidak melakukan pemotretan untuk kepentingan pihak lain.

Sebagai pemegang Hak Cipta atas Ciptaannya, seorang fotografer mempunyai hak dan kewajiban diantaranya sebagai berikut:

  1. berhak menentukan harga/nilai atas potret hasil karyanya;
  2. menyimpan negatif film dan atau soft copy digitalnya;
  3. fotografer sebagai pemilik Hak Cipta berhak mempertunjukan Ciptaannya didalam suatu pameran untuk umum atau memperbanyak dalam suatu katalog walaupun foto atau potretnya telah dialihkan kepada pihak lain sebagai pemegang Hak Cipta, (kecuali apabila tidak diperjanjikan lain);
  4. dapat menuntut seseorang yang tanpa seizinnya memperbanyak dan mengkomersialkan karya ciptanya untuk kepentingan/keuntungan pribadi;
  5. untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, fotografer sebagai pemegang Hak Cipta wajib meminta izin dari model foto atau ahli warisnya;
  6. bertanggung jawab atas kebenaran atau keaslian foto atau potret.

Hak Cipta atas Ciptaan fotografi berlaku semala 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan.

Pengumuman atas Foto atau Potret

Pada prinsipnya, setiap Ciptaan dapat diumumkan oleh Penciptanya atau pemegang Hak Cipta. Namun demikian Undang-undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta telah memberikan suatu batasan umum, yaitu terhadap Ciptaan yang bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintah di bidang agama, pertahanan dan keamanan Negara, kesusilaan, serta ketertiban umum setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta.

Khusus untuk foto atau potret, dalam mengumumkan Ciptaannya, pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin dari ahli warisnya dalam jangka waktu 10 tahun setelah orang yang dipotret meninggal dunia. (walaupun hanya berlaku terhadap potret yang dibuat atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret, atas permintaan yang dilakukan atas nama orang yang dipotret; atau untuk kepentingan orang yang dipotret.

Selain hal tersebut di atas, juga tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta atas pemotretan untuk diumumkan atas seorang Pelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum walaupun yang bersifat komersial, kecuali dinyatakan lain oleh orang yang berkepentingan.

Perlindungan Hak Cipta Atas Fine Art Photography Aliran Nudisme

Ada beberapa aliran seni fotografi, salah satu diantaranya adalah seni fotografi aliran nudisme, yaitu suatu aliran seni fotografi yang menggunakan objek manusia, baik pria maupun wanita yang mempertontonkan seluruh tubuh tanpa sehelai benangpun.

Fotografi seni nudisme merupakan suatu seni fotografi yang banyak mengundang perdebatan, terutama anggapan-anggapan bertentangan dengan kesusilaan dan tendensi pornografi. Aliran nudisme dalam seni masuk dalam kategori aliran seni yang realis, dimana menggambarkan sosok tubuh manusia sebagaimana adanya, karena tubuh manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling indah dan paling sempurna diantara seluruh mahluk ciptaanNya. Walaupun demikian, ditengah polemik kesusilaann dan pornografi, para seniman masih memiliki keyakinan Ciptaan mereka dilindungi oleh hukum.

Memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan mengenai Hak Cipta terdahulu hingga yang berlaku saat ini, yaitu sejak Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 yang terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 dan diganti dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002, pada prinsipnya segala macam Ciptaan mendapatkan perlindungan hukum, dengan batasan umum: tidak termasuk Ciptaan yang bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintah di bidang agama, pertahanan dan keamanan Negara, kesusilaan, serta ketertiban umum setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta.

Justru disilah sudah seharusnya Dewan Hak Cipta dapat lebih berperan, yaitu dapat membuat pertimbangan dan atau pendapat mengenai seni fotografi aliran nudisme atau Ciptaan nudisme lainnya.

Salah satu contoh yang cukup terkenal adalah kasus MADAME D SYUGA, yang merupakan foto-foto nudisme dari mantan istri Presiden pertama RI, Ratna Sari Dewi Soekarno. Walaupun dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung di Indonesia karena dianggap melanggar norma kepatutan, namun demikian Hak Cipta dari foto-foto tersebut tetap dilindungi oleh Negara. Hal ini dapat dilihat dari kasus pelanggaran Hak Cipta yang diputuskan oleh Majelis Hakim Jakarta Pusat yang dilakukan oleh majalah Indonesia What’s On, edisi 138 Tahun 1998.

Baca Pelanggaran Hak Cipta, Dewan Pers tanggal 16 September 2002, dimana Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi majalah Indonesia What’s On, Warsito Wahono, mengirimkan satu paket berkas laporan ke Dewan Pers tertanggal 10 Juni 2002, yang berisi mengenai putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan nota pembelaannya, tentang penjatuhan yaitu vonis satu tahun penjara dan denda Rp10 juta untuk tuduhan pelanggaran hak cipta oleh majalah tersebut. Kasus ini berawal -sesuai dengan fotokopi kliping nota pembelaan Warsito- dari pemuatan obyek foto, pada majalah Indonesia What’s On, edisi 138 Tahun 1998, yang tertulis MADAME D SYUGA DOC, yang notabene merupakan foto mantan istri Presiden pertama RI, Ratna Sari Dewi Soekarno. Dalam surat kepada Dewan Pers, Warsito, menyatakan keputusan ini akan berdampak pada kebebasan berekspresi dan kebebasan pers. Atas putusan pengadilan tersebut, Warsito menyatakan akan naik banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta, dan meminta kepada Dewan Pers untuk memprotes putusan tersebut yang dinilai tidak fair. Dalam proses persidangan, Warsito, menghadirkan beberapa ahli saksi yang antara lain RH Siregar, SH, Wakil Ketua Dewan Pers.


2 Comments on “Perlindungan Hak Cipta Atas Fine Art Photography Aliran Nudisme”

  1. budi says:

    Pak Kukuh, saya tertarik dengan pembahasan mengenai fotografi aliran nudisme ini, karena debateble.

    Sebenarnya menurut bapak apakah yg dimaksud dengan seni fotografi aliran nudisme?
    Apa patokan dasarnya suatu foto polos/bugil dapat dikategorikan sebagai suatu seni dan patut memperoleh perlindungan hak cipta?
    Apakah menurut bapak foto porno seperti playboy dapat dilindungi secara hukum, apabila dikaitkan dengan aliran nudisme tersebut?

  2. Kukuh Komandoko Hadiwidjojo says:

    Dear Pak Budi, seperti yg tertuang dalam tulisan saya, fotografi aliran nudisme adalah suatu aliran seni fotografi yang menggunakan objek manusia, baik pria maupun wanita yang mempertontonkan seluruh tubuh tanpa sehelai benangpun.
    Mengenai kategori apakah suatu foto termasuk pornografi atau tidak, harus dilihat dari segi pelanggaran normatifnya sebagaimana diatur dalam UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.
    Aliran nudisme yang porno atau tidak dari suatu foto tidak ada kaitannya dengan perlindungan hak cipta, karena pada prinsipnya, apapun hasil karya (baik nudis maupun bukan nudis) dari sang fotografer merupakan sebuah seni dan idealnya tetap dilindungi dengan hak cipta.

    Demikian Pak Budi, terimakasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s